Berbaik hatilah, karena semua orang yang kau temui berjuang dalam pertempuran yang lebih sulit.
Aku tak tahu pasti bagaimana Jesse bisa berada di klinikku. Sepertinya usianya belum cukup untuk menyetir, maskipun tubuhnya sudah mulai tumbuh dan gerakannya lentur seperti layaknya seorang pemuda. Wajahnya jujur dan terbuka.
Waktu aku masuk ke ruang tunggu, Jesse sedang membelai kucingnya dengan penuh kasih sayahng melalui pintu keranjang yang terbuka di pangkuannya. Seperti anak sekolahnya yang percaya pada seorang dokter, ia membawa kucingnya yang sakit padaku agar disembuhkan.
Kucing itu kecil, bentuknya indah, kepalanya lembut, dan warnanya bagus. Usianya sekitar 15 tahun. Dapat kulihat bagaimana bintik dan garisnya dan wajahnya yang cerah dan galak menimbulkan bayangan harimau dalam pikiran seorang anak, maka Tigress (harimau betina)-lah namanya.
Usia telah meredupkan api hijau cerah dimatanya dan matanya sudah tidak berbinar lagi, tapi ia masih anggun dan tenang. Ia menyapu dengan menggosokkan tubuhnya pada tanganku.
Aku mulai bertanya untuk mengetahui apa yang membawa keduanya menemuiku. Tidak seperti kebanyakan orang dewasa, anak remaja itu menjawab dengan langsung dan sederhana. Selera makan Tigress memburuk akhir-akhir ini, dan ia mulai muntah beberapa kali sehari. Sekarang ia tidak mau makan sama sekali, menarik diri dan murung. Beratnya juga turun setengah kilgram – itu penurunan yang cukup banyak untuk berat badan yang Cuma tiga kilogram.
Sambil membelai Tigress, aku memuji kecantikannya sambil memeriksa mata dan mulutnya, mendengarkan jantung dan paru-parunya, dan meraba perutnya. Alalu aku menemukannya: gumpalan di perut tengah. Dengan sopan, Tigress mencoba menyelinap kabur. Ia tak suka gumpalan itu diraba.
Tigress
November 21, 2008 pada 9:19 am (Umum)




