RSS

Kantung Semar

24 Oct

Kantung Semar

Kalimantan dan Sumatera surga nepenthes. Dari 120 spesies yang ditemukan, sebagian besar berasal dari 2 pulau itu. Namun, kantong semar yang pertama kali ditemukan justru ada di kawasan terpencil di Madagaskar. Di sanalah Etienne de Flacourt menemukan nepenthes berkantong corong berwarna hijau kekuningan pada 1658. Periuk monyet itu menghampar di permukaan tanah lembap berpasir dan rawa-rawa bakau. Kantongnya menyembul di antara semak-semak. Saat pertama kali ditemukan namanya bukan nepenthes. Flacourt menyebutnya anramitaco. Baru pada 1797, Jean Louis Marie Poiret, botanis asal Perancis, menamakannya Nepenthes madagascariensis. Sayangnya, 350 tahun kemudian tanaman itu seakan terlupakan. Tanaman pemangsa serangga itu jarang dibudidayakan. Kepunahan pun mengancam, bila tidak ada upaya penyelamatan. Padahal, N. madagascariensis mudah dibudidayakan karena adaptif di berbagai kondisi lahan. la tumbuh subur di lahan basah seperti lumpur atau di lahan marjinal seperti di rawa-rawa bakau. la juga tumbuh di air tergenang. Oleh sebab itu, sebarannya cukup luas. Ketakung itu ditemukan di kawasan barat laut, pantai barat, hingga selatan Madagaskar.

Nepenthes yang hidup terpencil di kawasan Samudra Hindia dan Pasifik diduga lantaran pecahnya benua-benua di bagian selatan pada 200-juta tahun silam, Oleh sebab itu, walaupun habitat mereka terpisah ribuan kilometer, beberapa di antaranya memiliki kemiripan.

Tercantik

Dari segi penampilan N. madagascariensis elok. la dinobatkan sebagai salah satu tanaman karnivora tercantik. Itu lantaran pada bagian dasar dan tepi tutup kantong bergradasi merah. Pada beberapa varian, bagian bibir dan tutup kantong berwarna merah solid. N. madagascariensis tergolong nepenthes berkantong jumbo. Panjang kantong atas bisa mencapai 25 cm. Penampang melintang bagian dasar kantong berbentuk lingkaran. Sedangkan bagian atas berbentuk silinder. la biasanya tumbuh di permukaan tanah. Namun, bila di sekitarnya terdapat pohon, ia bisa tumbuh merambat hingga ketinggian 5 m.

Selain N. madagascariensis, masih ada ketakung lain yang ditemukan jauh dari sentra utama: Asia Tenggara. Salah satunya Nepenthes khasiana. Periuk monyet itu endemik Bukit Khasi, bagian dari rangkaian perbukitan Garo-Khasi yang membentang di Meghalaya, India, Asia Selatan.

Nepenthes satu-satunya yang ditemukan di India itu juga berkantong besar. Begitu pula daunnya. Kantongnya ramping dan silindris dengan mulut dan penutup berbentuk bulat telur. Warnanya kebanyakan hijau muda dengan bercak-bercak merah.

N. khasiana tumbuh di pegunungan yang dingin dan berkelembapan tinggi. Walaupun begitu ia sebetulnya adaptif di berbagai kondisi iklim, mulai panas sampai temperatur minus 2°C. Pantas bila ia merupakan nepenthes yang pertama kali dibudidayakan di dunia karena mudah menyesuaikan diri dengan habitat baru.

Kehadiran N. khasiana di India sungguh mengherankan. la tumbuh menyendiri paling utara di Benua Asia. Sedangkan nepenthes lainnya sebagian besar ditemukan di bagian selatan dan tenggara Asia. Meski demikian, ketakong babi itu kemungkinan masih memiliki hubungan darah dengan jenis-jenis yang tersebar di benua terbesar di dunia itu.

Kerabat

Yang juga tumbuh terpencil adalah Nepenthes pervillei. la ditemukan di Kepulauan Seychelles dan sepanjang bagian timur laut Madagaskar. Kebanyakan dijumpai di pulau-pulau besar seperti Pulau Mahe dan Silhouette. Habitatnya di ketinggian 500—750 m dpi. Namun, pernah juga ditemukan di Morne Seychellois—puncaktertinggi di Kepulauan Seychelles—berketinggian 905 m.

N. pervillei tumbuh pada bebatuan granit yang tererosi dan muncul ke permukaan bumi. Lapisan bawah lereng bukit yang

terdapat di kepulauan itu mengandung kuarsa yang berasal dari akumulasi endapan granit. la tumbuh di kedalaman 10 cm lapisan kristal kuarsa murni yang melapisi batuan dasar granit. Kondisi itu sebetulnya merugikan tanaman karena air di dalam.tanah mudah menguap sehingga rawan kekeringan. Beruntung di Seychelles kelembapannya tinggi dan hujan turun hampir setiap hari. Seperti N. madagascariensis, pervillei juga tanaman terestrial alias tumbuh di atas permukaan tanah. Namun, ia juga dapat tumbuh merambat hingga ketinggian lebih dari 5 m bila ada pohon yang dapat dijadikan sandaran. Pertumbuhannya cepat sehingga mendominasi vegetasi suatu habitat. Apalagi vegetasi di lereng-lereng bukit di Pulau Mahe dan Silhouette tumbuhnya lamban. Saat dibudidayakan ia menyukai sinar matahari langsung atau sedikitnaungan.

Bentuk daun, ukuran, warna, dan keragaman N. pervillei mirip dengan madagascariensis. Kemungkinan kedua spesies itu memiliki kekerabatan. Musababnya, mereka sama-sama terisolasi dari nepenthes jenis lain yang sebagian besar tersebar di Asia Tenggara. Hanya biji yang bentuknya berbeda dan lebih rumitdibandingkan nepenthes jenis lain.

 

Tanpa sayap

Pada biji tak terlihat “sayap”yang berperan penting dalam penyebaran populasi. Kemungkinan menghilangnya sayap pada biji itu salah satu bentuk adaptasi tanaman akibat terpenjara di pulau terpencil. Mereka tak perlu lagi “sayap” untuk menerbangkan dirinya ke pulau lain yang berjarak ribuan kilometer. Oleh sebab itulah penyebaran pervillei hanya di pulau itu.

Kantong pervillei juga tergolong jumbo. Panjangnya mencapai 21 cm. Bentuknya pun cukup unik. Bagian dasar kantong berbentuk corong ramping berdiameter 5—15 mm. Pada bagian tengah kantong menggelembung hingga berdiameter 8 cm. Di atasnya menyempit lagi sampai diameter 6 cm. Warna beragam dari merah, hijau, kuning, dan jingga. Kekerabatan N. pervillei dengan madagascariensis juga terlihat dari penutup kantong. Warnanya mirip yaitu hijau muda kekuningan. Begitu juga variannya yang berwarna merah terang

sehingga tampak mencolok. Hanya saja bentuk penutup kantong pervillei lebih membulat.

Ketakung yang juga terisolasi adalah Nepenthes viellardii. la hidup di Kepulauan New Caledonia dan lie de Pins, bagian timur laut Australia. Nepenthes yang ditemukan oleh Joseph Dalton Hooker pada 1873 itu tumbuh subur di permukaan tanah lempung dan berpasir yang berkadar besi oksida tinggi. Media tumbuh semacam itu miskin unsur organik maupun nutrisi. Oleh sebab itu, ia tergolong jenis nepenthes yang lebih tahan kekeringan. Ketakung itu adaptif di ketinggian 0—800 m dpi. Ciri khas N. viellardii dapat dikenali dari perbedaan warna kantong bawah dan atas. Kantong bawah biasanya berwarna merah, merah muda, atau ungu. Sedangkan kantong atas lazimnya berwarna hijau kekuningan dengan beberapa semburat merahJSentuk kantongnya juga berbeda. Bagian dasar kantong bawah menggelembung dan di atasnya berbentuk silinder. Di bagian dalam peristome terdapat gigi. la juga dilengkapi sayap di bagian depan kantong.

Kantong atas menyerupai bentuk kantong N. pervillei. Bagian dasarnya berbentuk corong lalu menggelembung di bagian tengah. Di atasnya menyerupai piala. N. viellardii diduga pernah dijumpa di bagian barat Papua Nugini. Namun, kekerabatan secara taksonomis keduanya perlu penelitian lebih lanjut. Itulah jenis-jenis nepenthes yang tumbuh di kawasan terpencil. Keberadaan mereka yang terpisah dari kumpulannya di Asia Tenggara diduga lantaran pecahnya benua-benua di bagian selatan pada 200-juta tahun silam. Oleh sebab itu, walaupun habitat mereka terpisah ribuan kilometer, beberapa di antaranya memiliki kemiripan.

 
Leave a comment

Posted by on October 24, 2011 in Umum

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: